Minggu, 03 Desember 2017

Komentar Film War for the Planet of the Apes 2017 Menggunakan Sudut Pandang Teori Sigmund Freud

Desember 03, 2017 // by Romadoni


In my opinion film ini memeperlihatkan bagaimana seseorang menghadapi suatu masalah yang terjadi secara serius di dalam hidupnya dimana konflik antar ras manusia dan spesies kera cerdas saling berlomba untuk bertahan hidup. Film yang dominan dengan adegan pengorbanan ini akan menggugah hati nurani penonton untuk terhanyut kedalam kepedihan yang di rasakan oleh karakter-karakter di film ini.
Lalu apakah yang mendasari konflik antar ras itu terjadi? Menurut saya ada satu hal yang mendasari konflik ini yaitu “rasa takut/ fear” yang di terjemahkan berbeda oleh kedua karakter yang memiliki peran berlawanan yaitu Sang Kolonel (Antagonis) dan Caesar (Protagonis). Dibalik kekejaman dan kebiadaban Kolonel sebenarnya ia memiliki rasa takut akan masa depan manusia jika nanti di gantikan posisinya oleh para Kera sebagai makhluk tak berakal akibat wabah Flu Monyet yang menyebar, lalu ia bertekad memusnahkan seluruh manusia yang telah terjangkit beserta para kera di bumi ini untuk kelangsungan umat manusia yang selamat di bumi. Saya berpikir bahwa Sang Kolonel terlalu mendewakan “Id” nya sehingga melakukan hal yang gegabah dan bahkan ideologinya itu membuat dia membelot dari pasukan militer nasional dan menjadi buruan karena di anggap telah berhianat.
Sedangkan rasa takut Caesar lebih mengarah kepada kelangsungan hidup kelompoknya tanpa ada niatan menginvasi dan membunuh manusia, kalaupun membunuh itu hanya di lakukan dalam keadaan terancam. Disini jelas posisi Caesar dan kelompoknya merupakan buruan bagi Sang Kolonel. Kera-kera memang kalah jumlah dan persenjataan namun jika saja memungkinkan bagi para kera untuk membantai pasukan Kolonel itu tidak akan di lakukan karena sebenarnya ideologi Caesar hanya ingin berdamai dan menghimbau agar manusia tidak mengganggu kelompoknya. Meskipun sebenarnya ada cara untuk berdamai dan menghentikan wabah Flu Monyet tetap saja Sang Kolonel tidak mengindahkannya dan melanjutkan ideologinya untuk melakukan pemusnahan. Menurut saya Caesar telah benar mengagungkan “Super Ego” nya sehingga ia melakukan hal yang bijak walaupun dalam keadaan yang menyulitkan bagi dia dan kelompoknya.

Jadi saya bisa menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dan harus mengerti bahkan ketika ia sudah yakin dengan langkahnya. Rasa ketakutan terhadap sesuatu harus bisa di resapi oleh seseorang sehingga tidak melakukan keputusan yang salah. Film ini mengajarkan kita untuk berpikir seribu kali tentang keputusan yang akan kita ambil, karena jika gegabah imbasnya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Enough for this, maybe you have any other opinions, please write in the comment box below. Thanks for read!

loading...