Ojek online atau biasa disebut Ojol merupakan sebuah inovasi di bidang transportasi berkat adanya
pengembangan teknologi di Indonesia. Semenjak populer pada tahun 2011, banyak
orang yang tertarik untuk bekerja sebagai Ojol
karena tertarik dengan omset yang ekspektasinya mencapai jutaan rupiah
perminggu. Hal baik dari adanya Ojol yaitu
dapat membantu membuka lapangan pekerjaan untuk berbagai kalangan masyrakat.
Bagi mereka yang tua, muda, ataupun mereka yang memiliki pekerjaan tetap bisa
saja ikut mendaftar sebagai mitra asalkan mereka memiliki niat dan memenuhi
persyaratan. Namun, ternyata bekerja sebagai Ojol tidak sesuai yang di harapkan. Banyak sekali kendala atau
hal-hal yang kurang menyenangkan yang harus di tanggung oleh supir Ojol ketika bekerja di lapangan.
Contohnya adalah jarak penjemputan yang
terlalu jauh, dan lokasi penjemputan yang susah di cari.
Seringkali mitra Ojol
mendapatkan jarak penjemputan yang lebih jauh daripada jarak pengantaran, itu
di karenakan tidak ada lagi mitra Ojol
yang ada di sekitar daerah tersebut sehingga sistem aplikasi otomatis akan
mencari driver yang paling dekat dengan pemesan meskipun pada kenyataannya
jarak penjemputan sangat jauh bahkan bisa mencapai 3-5 kilometer. Tentunya hal
ini sangat merugikan driver karena bahan bakar yang di keluarkan akan lebih
banyak. Dalam sistem, tarif biaya menjemput
akan di bebankan pada driver sehingga semakin jauh jarak penjemputannya
maka driver akan semakin sabar.
Bukan hal baru jika mitra Ojol kesulitan mencari lokasi penjemputan yang di tentukan
penumpang, karena di Indonesia tatanan pemukimannya sangat rumit dan padat
sehingga seringkali GPS (Global Positioning System) tidak mampu menunjukkan
arah yang benar menuju lokasi penjemputan. Dampaknya adalah mitra Ojol akan kesusahan, sesekali
menancapkan gas motor dengan kencang dan berhenti untuk menanyakan lokasi yang
tepat kepada pemesan jasanya. Bisa di bayangkan jika hal ini terjadi ketika
siang hari dan cuacanya sangat panas. Para mitra Ojol harus rela berlelah tenaga, waktu, dan bensin untuk mencari
lokasi penjemputan yang tepat demi mengejar rupiah.
Itu adalah dua contoh kendala mitra Ojol ketika sedang terjun ke lapangan.
Meskipun ternyata rupiah yang di cari tidak sebanding dengan perjuangan mereka,
namun kebutuhan ekonomi menjadi alasan utama yang membuat mereka rela untuk
bekerja . Akhir kata, semoga para penumpang mitra Ojol dapat mengerti perjuangan mereka dengan memberi sedikit tips
di tiap perjalanan atau setidaknya menghargai dan bersikap ramah kepada para
mitra Ojol, itu cukup untuk
meringankan beban pekerjaan mereka.
0 komentar:
Posting Komentar